Nurul Islami | Berdiri di Tepi Mulut Neraka - Sahabat Nurul Islami inilah jaman ketika dosa sudah menjadi warna utamanya. Inilah jaman ketika orang semakin malu melakukan kebaikan. Jaman dimana prilaku tercela harus dipertontonkan. Inilah jaman edan. Dulu orang tua kita mengatakan setiap kali keluar rumah, pasti keluar uang karena ada saja yang ingin dibeli. Begitu mata terbuka, saat itu juga dosa bertambah.
Ada ucapan bijak dari orang-orang tua kita dulu,"Kalau nggak perlu-perlu betul nggak usah keluar rumah." Saat ini yang terjadi malah sebaliknya. semua tidak lagi betah dirumah. Bukan rumahnya yang jelek. Justru rumahnya mentereng, berada di kompleks perumahan elit. Tidak ada yang berani masuk kecuali air banjir. Rumah modern hanya jadi tempat menyimpan baju, mebeler mewah. Hanya jadi tempat buang air, kkotoran, dan tidur. Selebihnya, semua aktifitas berada diluar rumah. Penghuni baru masuk rumah kalau badan sudah penat. Orang tua? apalagi. Sistem mega mesin industri global telah menjadikan manusia robot tak berperasaan. Mereka harus kerja seperti baut mesin industri. Tidak boleh berpikiran, selama tidak ada gangguan harus tetap jalan. Satu tujuan adalah mencapai target industri. Inilah yang mereka banggakan. Ketika senja datang, malam merangkak pelan, mereka pulang kerja. Tidak ada pilihan kecuali menciptakan energi untuk esok hari. Dasar mesin.
Lalu bagaimana dengan anak-anak mereka. Yang penting makan, yang penting sekolah, dan yang paling penting hidup. Tanpa kontrol, tanpa belaian kasih sayang. Waktu bersama menjadi langkah. Ah, yang penting mereka bahagia dengan dunianya. Hingga suatu hari esok anak-anak beranjak dewasa dengan hati yang kosong dari sentuhan kasih sayang. Hati yang hampa, persis mesin-mesin industri tempat orangtua mereka bekerja. Tanpa perasaan, tanpa pikiran. Maka tumbuhlah anak-anak menjadi ramaja tanpa arah. Mereka memang tertawa tapi sisi terdalam batinya merintih. Tubuh mereka gagah dan seksi tapi sejatinya sangatrapuh. mka jadilah mereka pecandu narkoba, free sex, punk, geng motor dan entah apa lagi mereka menamai jati diri mereka sendiri. Jati diri yang sejatinya manifestasi "pemberontakan" mereka dan teriakan batin bahwa mereka sangat membutuhkan perhatian.
Apa yang anda rasakan, bukan yang anda pikirkan ketika anda membaca berita di koran yang menyebutkan bahwa dari hasil survey, pelajar di kota A sebanyak 60% sudah pernah melakukan hubungan seks. 90% sudah pernah nonton film porno. Dari 60% yang mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks, 65% mengaku melakukannya dirumah sendiri. Sebagian besar alasan melaukan hubungan seks adalah sebagai bukti cinta kepada pacarnya. Bisa jadi anda tidak merasakan apapun kecuali kaget sejenak. Setelah itu biasa saja. Alam bawah sadar anda memerintahkan untuk tidak mempersoalkan informasi yang baru saja anda baca dan terima. Mengapa, karena secara emosional anda tidak berada dekat dengan si pelaku dalam informasi tersebut.
Lalu apa jadinya jika ternyata anda mendengar berita bahwa saudara, sahabat dekat anda yang masih duduk di bangku sekolah SMP atau SMA hamil 4 bulan. Bahkan bisa jadi adik atau kakak perempuan anda menjadi korban serupa, hamil diluar nikah. Kini engkau baru sadar bahwa apa yang dikatakan koran dan media masa , benar-benar sudah di dekatmu.
Read more
![]() | |
| Neraka |
Lalu bagaimana dengan anak-anak mereka. Yang penting makan, yang penting sekolah, dan yang paling penting hidup. Tanpa kontrol, tanpa belaian kasih sayang. Waktu bersama menjadi langkah. Ah, yang penting mereka bahagia dengan dunianya. Hingga suatu hari esok anak-anak beranjak dewasa dengan hati yang kosong dari sentuhan kasih sayang. Hati yang hampa, persis mesin-mesin industri tempat orangtua mereka bekerja. Tanpa perasaan, tanpa pikiran. Maka tumbuhlah anak-anak menjadi ramaja tanpa arah. Mereka memang tertawa tapi sisi terdalam batinya merintih. Tubuh mereka gagah dan seksi tapi sejatinya sangatrapuh. mka jadilah mereka pecandu narkoba, free sex, punk, geng motor dan entah apa lagi mereka menamai jati diri mereka sendiri. Jati diri yang sejatinya manifestasi "pemberontakan" mereka dan teriakan batin bahwa mereka sangat membutuhkan perhatian.
Apa yang anda rasakan, bukan yang anda pikirkan ketika anda membaca berita di koran yang menyebutkan bahwa dari hasil survey, pelajar di kota A sebanyak 60% sudah pernah melakukan hubungan seks. 90% sudah pernah nonton film porno. Dari 60% yang mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks, 65% mengaku melakukannya dirumah sendiri. Sebagian besar alasan melaukan hubungan seks adalah sebagai bukti cinta kepada pacarnya. Bisa jadi anda tidak merasakan apapun kecuali kaget sejenak. Setelah itu biasa saja. Alam bawah sadar anda memerintahkan untuk tidak mempersoalkan informasi yang baru saja anda baca dan terima. Mengapa, karena secara emosional anda tidak berada dekat dengan si pelaku dalam informasi tersebut.
Lalu apa jadinya jika ternyata anda mendengar berita bahwa saudara, sahabat dekat anda yang masih duduk di bangku sekolah SMP atau SMA hamil 4 bulan. Bahkan bisa jadi adik atau kakak perempuan anda menjadi korban serupa, hamil diluar nikah. Kini engkau baru sadar bahwa apa yang dikatakan koran dan media masa , benar-benar sudah di dekatmu.



