![]() |
| Rasisme wahabi |
Diberitakan oleh media Al Alam pada sabtu 11 Mei 2013, bahwa depertemen urusan islam dan dakwah Arab Saudi melarang warga asing mengumandangkan adzan di negara iini dan menjadikan sanki berat kepada siapa saja yang melanggar. Alasannya terkesan dipaksakan. Mereka menilai, pengumandangan adan dan penunjukkan imam jama'ah dari warga asing melanggar undang-undang negara.
Langkah depeartemen yang membidangi bertujuan untuk menempatkan warga Arab Saudi sebagai pihak yang paling berhak menjadi imam sholat serta muadzin di masjid-masjid. Warga asing yang melanggar peraturan nyeleneh ini bakal dikeluarkan dari masjid, gaji mereka diputus dan pada akhirnya akan dipecat dari pekerjaannya. Urusan imam dan muadzin mutlak dimonopoli warga Arab Saudi.
Penerbitan undang-undang ini kian menampakkan kenaifan sekte keras kepala ini. Agaknya mereka tidak pernah membuka buku sejarah atau lupa bahwa Bilal bin Rabbah adalah orang Habasyah berkulit hitam yang ditunjukkan oleh Baginda Rasul SAW menjadi muadzin kaum muslimin. Ia sama sekali bukan warga Arab Saudi kala itu. Jelas sekali bahwa Wahabi membuat udang-undang atau fatwah yang tidak berdasarkan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Padahal mereka sering sekali berkoar mengikuti 2 sumber hukum yang autentik itu. Syaikh Abdulllah An-Nasir, kepala departemen urusan islam dan dakwah pada wawancaranya 22 April 2013 lalu menegaskan akan menghukum berat orang Arab Saudi yang ketahuan menjadi imam, muadzin ataau khotib di masjd.
Wahabi mengintensifkan pemeriksaan masjid-masjid di Saudi Arabia untuk memastikan tidak ada imam atau muadzin selain warga Negara Arab Saudi. Syaikh Abdullah bahkan telah membentuk tim khusus untuk memantau secara terus menerus masjid-masji disana. Tim ini memiliki hak untuk mengambil keputusan dan menjatuhkan fungsi hukum terhadap pelanggar. Kriteria imam sholat dan muadzin sama sekali tidak didasarkan pada suku bangsa atau ras.
Hal ini tercermin dalam kisah Amr bin Salamah pada waktu Fathu Makkah (penaklukan kota Mekkah).Sahabat ini memiliki hafalan Al-Quranyang sanggat kuat sehingga seakan-akan Kalamullah itu melekat di dalam dadanya. Suatu hari, kaum muslimin akan melaksanakan shalat, Amr bin Salamah ditunjuk menjadi imam karna dia lebih banyak hafalannya. Padahal umurya waktu itu masih sekitar enam atau tujuh tahun.
Fatwah "sangat tidak ilmiah" produk Wahabi ini sebenarnya berpangkal dari kecongkakan mereka.Sudah bukan rahasia lagibahwa sekte ini merasa paling benar dan menganggap kelompok lain sesat dan kufur. Kesombongan mereka tampak jelas beberapa waktu lalu di masjid nabawiy. Saat itu,imam shalat Maghrib yang berasal dari kelompok mereka batal wudhunya dan memerintahkan makmum untuk menunggunya berwudhu. Ia melarang makmum yang ada di belakangnya untuk menggantikannya seperti yang di ajarkan Baginda Nabi SAW.
Mestinya mereka memetik teladan dari sikap salah seorang sahabat yang bernama Abu Ubaidah RA. Pernah pada suatu kali, Abu Ubaidah menjadi imam shalat. Ketika meninggalkan tempat itu ia berkata: "Setan telah menggodaku hingga aku merasa bahwa aku lebih baik dari pada orang lin. Oleh karna itu, aku tidak mau menjadi imam lagi." Sepertinya Abu Ubaidah menghayati betul sabda Biginda Nabi SAW yang berbunyi : "takkan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongannya. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." Hadits riwayat Muslim sejatinya ilmu harus dikawal hidayah. tanpa hidayah, seseorang yang berilmu akan rentan menjadi sombong dan akan semakin jauh dari Allah SWT. Baginda Rasul SAW bersabda : "Barang siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya maka ia akan tidak dekat dengan Allah SWT melainkan bertambah jauh." sebaliknya, seorang ahli ilmu atau ulama yang mendapat hidayah, maka hubungannya dengan Allah SWT akan semakin erat sehingga ia meraih maqom (derajat) disisinya dan dapat menyaksikan Allah SWT dengan mata hatinya (ain bashiroh).
